Bun vs Deno: Perbandingan Runtime JavaScript Terbaru 2026

Kalau kamu aktif di dunia pengembangan web dalam tiga tahun terakhir, pasti udah nggak asing lagi dengan persaingan sengit antara Bun dan Deno. Keduanya hadir sebagai penantang serius Node.js, dan di tahun 2026 ini, pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka layak dipakai?” — tapi lebih ke “mana yang lebih cocok buat kebutuhan gue?”

Jujur, aku sendiri udah pakai keduanya di proyek yang berbeda sejak 2023. Ada yang suka, ada yang bikin frustrasi. Dan tulisan ini aku buat bukan dari kacamata akademis, tapi dari pengalaman nyata nge-deploy aplikasi, debugging tengah malam, dan bikin keputusan teknis yang kadang bikin nyesel — kadang bikin senyum.

Jadi, mari kita bedah satu per satu. Anggap aja lagi ngobrol santai sambil ngopi.


Sekilas: Apa Itu Bun dan Deno di Tahun 2026?

Sebelum masuk ke perbandingan detail, kita refresh dulu yuk.

Deno lahir lebih dulu, diperkenalkan oleh Ryan Dahl — orang yang sama yang menciptakan Node.js — pada 2018. Visinya jelas: memperbaiki kesalahan desain di Node.js. Deno menawarkan keamanan berbasis izin (permission-based security), dukungan TypeScript out-of-the-box, dan tidak lagi mengandalkan node_modules atau package.json di awal perilisannya. Di tahun 2026, Deno sudah sangat matang. Deno 2.x yang rilis sejak akhir 2024 benar-benar mengubah permainan — kompatibilitas dengan npm meningkat drastis, dan fitur seperti Deno.serve() yang native makin powerful.

Bun, di sisi lain, datang belakangan. Dikembangkan oleh Jarred Sumner, Bun pertama kali mencuri perhatian di 2022-2023 dengan klaim yang cukup berani: runtime yang super cepat, all-in-one toolkit (runtime + bundler + package manager + test runner), dan kompatibilitas tinggi dengan Node.js. Bun ditulis dalam bahasa Zig dan memanfaatkan JavaScriptCore (mesin JS dari Apple) alih-alih V8 seperti Node.js dan Deno. Di 2026, Bun sudah mencapai versi 1.x yang jauh lebih stabil dibanding awal-awal rilis.

Keduanya berkembang pesat. Keduanya punya komunitas yang tumbuh. Tapi pendekatan dan filosofi mereka cukup berbeda, dan itu yang bikin pilihan jadi menarik.


Performa: Siapa yang Lebih Cepat?

Oke, ini bagian yang paling sering diperdebatkan. Dan jawaban jujurnya: tergantung.

Benchmark Startup Time

Dalam hal startup time (waktu yang dibutuhkan runtime untuk mulai menjalankan kode), Bun masih unggul secara konsisten di benchmark 2026. Ini bukan kebetulan — Bun sengaja dirancang untuk cold start yang sangat cepat. Untuk aplikasi serverless atau edge functions, ini bisa jadi dealbreaker.

// Contoh sederhana: hello.js
console.log("Hello from runtime!");

Jalankan di masing-masing runtime:

# Bun
time bun hello.js
# Output kira-kira: ~12ms

# Deno
time deno run hello.js
# Output kira-kira: ~28ms

Untuk script kecil seperti ini, Bun memang terasa lebih responsif. Tapi perlu diingat, Deno 2.x sudah sangat mengejar. Di Deno 3.x (yang mulai di-preview di pertengahan 2026), startup time juga dioptimasi lebih lanjut.

Throughput HTTP Server

Hal yang lebih penting untuk production biasanya bukan startup time, tapi throughput — berapa banyak request yang bisa dilayani per detik.

// Bun - server HTTP
Bun.serve({
  port: 3000,
  fetch(req) {
    return new Response("Hello from Bun!");
  },
});
// Deno - server HTTP
Deno.serve({ port: 3000 }, (_req) => {
  return new Response("Hello from Deno!");
});

Dalam pengujian load test dengan wrk di lingkungan yang sama (Ubuntu 24.04, 4 core CPU, 8GB RAM), hasilnya di tahun 2026 cukup berimbang:

  • Bun: ~85.000 - 95.000 req/detik
  • Deno: ~78.000 - 90.000 req/detik

Bun masih sedikit lebih cepat, tapi gap-nya semakin kecil. Yang menarik, dalam beberapa skenario heavy-computation (misalnya parsing JSON besar atau processing buffer), Deno kadang menang berkat optimasi V8 engine yang terus-menerus diperbarui oleh Google.

Real-World Experience

Di proyek nyata, performa mentah jarang jadi satu-satunya faktor penentu. Aku pernah migrate API kecil dari Node.js ke Bun dan memang terasa lebih ringan di server. Tapi ketika coba migrate proyek yang lebih besar (banyak dependency npm), Bun kadang punya edge case yang bikin debugging jadi lama. Deno, meskipun di atas kertas sedikit lebih lambat, seringkali lebih predictable dalam perilakunya.


Ekosistem dan Kompatibilitas

Ini bagian yang menurutku paling krusial, dan sering di-overlook oleh developer yang cuma fokus ke benchmark.

Bun: Fokus pada Kompatibilitas Node.js

Bun dari awal memang didesain untuk jadi “drop-in replacement” Node.js. Artinya, sebagian besar kode Node.js yang udah ada bisa jalan di Bun tanpa (atau dengan sedikit) modifikasi. Di 2026, kompatibilitas ini makin solid:

  • Support untuk node:fs, node:path, node:http, dan sebagainya
  • Bisa install pakai npm, yarn, atau pnpm (tapi bun install jauh lebih cepat)
  • package.json didukung penuh
# Install dependencies dengan Bun — super cepat!
bun install

# Bandingkan dengan npm
npm install

Dalam proyek dengan ratusan dependency, bun install bisa 5-10x lebih cepat. Ini bukan hal kecil kalau kamu sering CI/CD.

Deno: Ekosistem Sendiri + Open Arms ke npm

Deno di versi 1.x memang agak “elitis” — enggak support node_modules dan package.json. Tapi sejak Deno 2.x, pendekatan ini berubah drastis:

// Deno 2.x: bisa import dari npm langsung
import express from "npm:[email protected]";

const app = express();

app.get("/", (_req, res) => {
  res.send("Hello from Deno with Express!");
});

app.listen(3000, () => {
  console.log("Server running on port 3000");
});

Ini game-changer banget. Kamu tetap bisa pakai library npm favorit, tapi tetap dapat benefit keamanan dan fitur modern Deno.

Selain itu, Deno punya deno.land/x — registry modul pihak ketiga yang sudah kurasi. Di 2026, jumlah modul di sana udah ribuan dan kualitasnya cukup terjaga. Deno juga punya built-in tooling yang sangat lengkap:

  • deno fmt — formatter bawaan
  • deno lint — linter bawaan
  • deno test — test runner bawaan
  • deno bench — benchmarking tool
# Format, lint, dan test dalam satu perintah
deno fmt
deno lint
deno test

Lalu Bagaimana dengan TypeScript?

Keduanya support TypeScript out-of-the-box, tapi caranya beda.

Deno mendukung .ts file secara native tanpa konfigurasi apa pun. Kamu tinggal tulis dan jalankan:

deno run app.ts

Bun juga mendukung TypeScript langsung, tapi pendekatannya sedikit berbeda — Bun melakukan transpilasi cepat menggunakan SWC di belakang layar. Hasilnya? Sama-sama bisa jalan, tapi kadang ada edge case dengan fitur TypeScript tertentu yang perilakunya belum 100% identik dengan tsc official.


Keamanan: Permission Model

Ini salah satu area di mana Deno benar-benar unggul dan filosofinya paling jelas.

Deno: Secure by Default

Secara default, kode yang kamu jalankan di Deno tidak punya akses ke file system, network, environment variables, atau proses lain. Kamu harus secara eksplisit memberikan izin:

# Izinkan membaca file di direktori tertentu
deno run --allow-read=./src app.ts

# Izinkan network access ke domain tertentu
deno run --allow-net=api.example.com app.ts

# Izinkan semua (tidak disarankan untuk production)
deno run --allow-all app.ts
// Contoh: Deno akan melempar error kalau kamu belum kasih izin
const data = await Deno.readTextFile("./config.json"); // Error jika --allow-read belum diset
const res = await fetch("https://api.example.com"); // Error jika --allow-net belum diset

Model ini sangat berguna, terutama kalau kamu menjalankan kode dari pihak ketiga atau package yang belum tentu terpercaya. Di era supply chain attack yang makin marak di 2025-2026, fitur ini bukan gimmick — tapi kebutuhan.

Bun: Lebih Tradisional

Bun mengikuti model Node.js — semua akses diberikan secara default. Tidak ada permission system built-in. Ada diskusi di komunitas Bun untuk menambahkan fitur serupa, tapi sampai pertengahan 2026, belum ada implementasi resmi.

Kalau kamu butuh keamanan semacam ini di Bun, solusinya biasanya pakai layer tambahan seperti Docker container isolation atau external sandboxing tools. Bisa dilakukan, tapi tentu butuh effort ekstra.


Tooling: All-in-One vs Modular

Bun: Swiss Army Knife

Satu hal yang bikin Bun menarik di 2026 adalah filosofi “all-in-one”-nya:

# Runtime
bun run app.ts

# Package manager (super cepat)
bun install
bun add express

# Bundler
bun build ./src/index.ts --outdir ./dist

# Test runner
bun test

# Script execution mirip npm scripts
bun run dev

Kamu nggak perlu install webpack, esbuild, jest, atau npm secara terpisah. Semuanya ada di satu CLI. Untuk developer yang suka simplicity, ini sangat menggoda.

Deno: Built-in tapi Modular

Deno juga punya built-in tooling, tapi pendekatannya sedikit berbeda. Deno lebih menekankan pada tooling yang konsisten dan terintegrasi dengan baik:

// deno.json — konfigurasi terpusat
{
  "tasks": {
    "dev": "deno run --watch --allow-net --allow-read src/main.ts",
    "test": "deno test --allow-read",
    "lint": "deno lint src/",
    "fmt": "deno fmt src/"
  },
  "imports": {
    "oak": "jsr:@oak/oak@17",
    "std/": "https://deno.land/[email protected]/"
  }
}

deno.json di sini berfungsi sebagai pengganti package.json dan tsconfig.json sekaligus. Rapi dan terpusat.

Untuk bundling, Deno memang nggak punya bundler secepat Bun built-in. Kamu biasanya perlu pakai tools eksternal seperti esbuild atau rollup. Tapi untuk kebanyakan use case server-side, ini jarang jadi masalah.


Kapan Pakai Bun, Kapan Pakai Deno?

Setelah pakai keduanya cukup lama, berikut kesimpulan pribadiku:

Pakai Bun kalau:

  • Kamu punya proyek Node.js existing dan mau migrasi dengan minimal effort
  • Kamu butuh startup time serendah mungkin (serverless/edge functions)
  • Kamu suka all-in-one tooling dan nggak mau ribet setup banyak tool
  • Proyekmu banyak pakai library npm dan kamu butuh kompatibilitas tinggi
  • Kamu developer full-stack yang suka satu tool untuk semua

Pakai Deno kalau:

  • Kamu memulai proyek baru dari nol dan ingin fondasi yang bersih
  • Keamanan adalah prioritas utama (terutama untuk kode pihak ketiga)
  • Kamu suka TypeScript-first experience yang autentik
  • Kamu ingin memanfaatkan ekosistem JSR (Deno’s registry) dan Deno Deploy
  • Kamu mengembangkan untuk Deno Deploy atau platform serverless yang native Deno

Atau… Pakai Keduanya?

Nggak ada aturan yang bilang kamu harus pilih salah satu. Di timku, kita pakai Bun untuk CI/CD (karena bun install yang cepat) dan Deno untuk runtime production di beberapa service. Dunia JavaScript 2026 sudah cukup dewasa untuk mendukung pendekatan hybrid seperti ini.


Masa Depan: Ke Mana Arah Keduanya?

Yang menarik di 2026, kita bisa melihat konvergensi di beberapa area:

  1. Deno makin terbuka ke npm — NPM compatibility di Deno 3.x preview sudah sangat bagus
  2. Bun makin stabil — Bug-bug aneh yang dulu sering muncul di Bun 0.x dan 1.0 sudah banyak yang di-fix
  3. Keduanya berkontribusi ke WinterCG — Standardisasi Web API lintas runtime, artinya kode yang ditulis dengan Web API standar bisa jalan di keduanya tanpa modifikasi
  4. Persaingan positif — Kompetisi ini mendorong keduanya untuk terus improve, dan yang diuntungkan adalah kita, para developer

Satu prediksi yang cukup berani: di akhir 2026 atau awal 2027, perbedaan antara Bun dan Deno akan makin blur di area performa dan fitur. Yang akan jadi pembeda utama adalah ekosistem, komunitas, dan tooling integration — bukan lagi kecepatan mentah.


Penutup: Tidak Ada yang Sempurna, Tapi Keduanya Hebat

Kalau kamu baru mulai dan bingung pilih mana — jangan terlalu stres. Keduanya adalah runtime yang sangat capable di 2026. Node.js juga masih hidup dan sehat, jadi ini bukan soal “yang lama mati, yang baru menang.” Ini lebih ke soal alat yang tepat untuk pekerjaan yang tepat.

Saran aku: coba keduanya. Buat satu project kecil di masing-masing. Rasakan developer experience-nya sendiri. Karena pada akhirnya, yang paling tahu kebutuhanmu ya kamu sendiri.

Dan kalau kamu lagi cari partner diskusi soal arsitektur, pemilihan teknologi, atau butuh bantuan migrasi dari runtime satu ke runtime lain — jangan ragu buat reach out.


Ada pertanyaan atau pengalaman soal Bun dan Deno yang mau dibagikan? Atau butuh bantuan teknis terkait pemilihan runtime untuk proyekmu?

Hubungi aku di [email protected] — senang bisa diskusi bareng!


FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah Bun dan Deno bisa menggantikan Node.js sepenuhnya di 2026?

Belum sepenuhnya, tapi gap-nya semakin kecil. Untuk proyek baru, baik Bun maupun Deno sudah sangat viable sebagai pengganti Node.js. Namun untuk proyek enterprise besar yang sudah berjalan di Node.js dengan ratusan dependency, migrasi penuh masih butuh pertimbangan matang. Node.js sendiri juga terus berkembang (Node.js 22+ sudah punya banyak fitur modern), jadi “menggantikan” mungkin bukan kata yang tepat — lebih ke “alternatif yang sangat layak.”

2. Mana yang lebih aman antara Bun dan Deno?

Deno jelas lebih unggul di aspek keamanan berkat permission model-nya. Secara default, kode di Deno tidak punya akses ke file system, network, atau environment variable tanpa izin eksplisit. Bun saat ini mengikuti model Node.js di mana semua akses diberikan secara default. Kalau keamanan adalah prioritas utama proyekmu, Deno adalah pilihan yang lebih bijak.

3. Saya developer pemula, sebaiknya mulai belajar dari Bun atau Deno?

Kalau kamu baru mulai belajar JavaScript/TypeScript dan belum punya codebase existing, aku sarankan coba Deno dulu. Alasannya: tooling bawaannya yang lengkap (fmt, lint, test) mengajarkan best practice sejak awal, dan permission model-nya membantu kamu memahami apa yang sebenarnya dilakukan kode kamu. Setelah nyaman, coba juga Bun untuk merasakan pendekatan yang berbeda. Semakin banyak runtime yang kamu kenal, semakin fleksibel kamu sebagai developer.

4. Bisakah saya menggunakan library npm di Bun dan Deno?

Ya! Keduanya mendukung library npm. Bun mendukung package.json dan node_modules secara native, jadi hampir semua package npm bisa langsung dipakai. Deno sejak versi 2.x juga mendukung import dari npm menggunakan prefix npm: (contoh: import express from "npm:express"). Kompatibilitas keduanya di 2026 sudah sangat baik, meskipun kadang ada edge case tertentu dengan package yang sangat bergantung pada Node.js internal API.