Bun vs Node.js: Benchmark Performance 2026 — Mana yang Lebih Ngebut?

Kalau lo aktif di scene JavaScript belakangan ini, pasti udah nggak asing lagi sama bun. Runtime yang satu ini memang lagi naik daun, dan banyak developer yang mulai penasaran: “Emang secepat apa sih bun dibanding Node.js?” Pertanyaan ini makin relevan di 2026, karena kedua runtime ini udah berevolusi cukup signifikan.

Gue sendiri udah pakai Node.js dari era v8 dan mulai explore bun sejak versi 1.0. Setelah bertahun-tahun pakai keduanya, gue mau share hasil benchmark terbaru sekaligus pengalaman real-world yang bisa jadi pertimbangan lo sebelum migrasi. Spoiler: jawabannya nggak sehitam-putih yang lo kira.

Artikel ini juga bakal nyentuh beberapa topik teknis lain yang relevan, kayak cara pakai Docker Compose buat deployment, dan perbandingan tools AI coding kayak Cursor vs Copilot yang bisa lo pairing sama runtime pilihan lo.


Apa Itu Bun dan Kenapa Bisa Jadi Tantangan buat Node.js?

Sebelum masuk ke angka-angka benchmark, mari kita samain dulu pemahaman.

Node.js itu veteran. Udah ada sejak 2009, dibangun di atas V8 engine dari Google, dan udah jadi backbone dari jutaan aplikasi production di seluruh dunia. Ekosistem npm-nya masif — lebih dari 2 juta paket siap pakai.

Bun itu challenger. Dibuat oleh Jarred Sumner, bun dibangun dari nol pakai bahasa Zig dan JavaScriptCore (engine dari WebKit/Safari). Tujuan utamanya: jadi all-in-one toolkit buat JavaScript dan TypeScript yang super cepat. Bun bukan cuma runtime, tapi juga bundler, test runner, dan package manager — semuanya dalam satu binary.

Di 2026, bun udah mencapai versi 2.x dengan stabilitas yang jauh lebih baik dibanding awal-awal rilis. Banyak startup dan project open source yang mulai adopt bun secara serius. Tapi Node.js juga nggak diam — mereka terus optimize dan sekarang udah di versi 24.x.


Benchmark Performance Bun vs Node.js 2026

Oke, ini bagian yang lo tunggu-tunggu. Gue jalanin benchmark di mesin yang sama (Ubuntu 24.04, AMD Ryzen 7 7800X3D, 32GB RAM) dengan masing-masing runtime versi terbaru.

Startup Time

Ini salah satu keunggulan terbesar bun dari dulu.

Command: time bun run script.js
Command: time node script.js

Script kosong (hello world):
- Bun:  8ms
- Node: 32ms

Script dengan 100 import statements:
- Bun:  22ms
- Node: 89ms

Bun 3-4x lebih cepat dalam hal startup time. Buat CLI tools, scripts, atau serverless functions yang butuh cold start cepat, ini game changer banget. Lo yang sering bikin cron jobs atau microservices kecil pasti ngerasain bedanya.

HTTP Server Performance

Ini benchmark yang paling sering diperdebatkan. Gue test pakai framework masing-masing yang populer.

Test setup — Bun (built-in HTTP server):

// server-bun.ts
Bun.serve({
  port: 3000,
  fetch(req) {
    return new Response(JSON.stringify({ message: "Hello from Bun!" }), {
      headers: { "Content-Type": "application/json" },
    });
  },
});
console.log("Bun server running on port 3000");

Test setup — Node.js (built-in http module):

// server-node.mjs
import http from "node:http";

const server = http.createServer((req, res) => {
  res.writeHead(200, { "Content-Type": "application/json" });
  res.end(JSON.stringify({ message: "Hello from Node!" }));
});

server.listen(3000, () => {
  console.log("Node server running on port 3000");
});

Hasil benchmark (10 detik, 50 concurrent connections):

MetricBun 2.1Node.js 24
Requests/sec~280,000~175,000
Avg Latency0.18ms0.29ms
Throughput48.2 MB/s30.1 MB/s
P99 Latency1.2ms2.8ms

Bun unggul sekitar 60% dalam requests per second. Angka ini konsisten di berbagai test scenario. Bun memang dioptimasi banget buat I/O-heavy workloads — makanya HTTP handling-nya bisa segitu ngebutnya.

Tapi, ini pakai built-in HTTP server. Kalau lo pakai framework populer kayak Express atau Hono, gap-nya bisa lebih kecil karena bottleneck-nya pindah ke framework-nya, bukan runtime-nya.

Package Installation

Ini area di mana bun benar-benar brutal.

# Install dependencies dari package.json (clean install)
bun install    # rata-rata 1.2 detik
npm install    # rata-rata 28 detik
yarn install   # rata-rata 18 detik
pnpm install   # rata-rata 8 detik

Bun itu 20-25x lebih cepat dari npm dalam install dependencies! Nggak heran sih — bun pakai global cache yang agresif dan resolver yang ditulis dari scratch. Buat project gede dengan ratusan dependencies, ini hemat waktu banget.

Gue bahkan pernah nulis tentang belajar Python automation dan menyebutkan betapa pentingnya fast feedback loop. Nah, package install yang cepat itu salah satu cara dapetin feedback loop yang mulus.

File I/O Operations

// Benchmark: baca file 10MB, 1000 iterasi
const data = await Bun.file("test-10mb.txt").text();
// vs
import { readFile } from "node:fs/promises";
const data = await readFile("test-10mb.txt", "utf-8");
OperationBun 2.1Node.js 24
Read 10MB file2.1ms4.8ms
Write 10MB file3.4ms6.2ms
Read dir (10K files)12ms28ms

Bun ~2x lebih cepat di file I/O. Bun punya API Bun.file() yang lebih streamlined dan langsung dioptimasi di level native. Node.js juga udah improve banyak di v24, tapi bun tetap unggul di area ini.

TypeScript Execution

Ini salah satu fitur favorit gue. Bun bisa jalanin TypeScript langsung tanpa perlu compile step.

// app.ts — langsung jalan dengan "bun run app.ts"
interface User {
  name: string;
  age: number;
}

const users: User[] = [
  { name: "Andi", age: 25 },
  { name: "Budi", age: 30 },
];

const filtered = users.filter((u) => u.age > 27);
console.log(filtered);

Node.js di v24 juga udah support TypeScript execution (via --experimental-strip-types), tapi bun support-nya lebih mature dan kompatibel dengan lebih banyak fitur TypeScript. Nggak perlu ts-node, tsx, atau swc lagi — bun handle semuanya.


Contoh Kode: HTTP API Lebih Realistis

Benchmark di atas pakai contoh sederhana. Sekarang mari kita bikin contoh yang lebih real-world.

Bun + Hono:

// app-bun.ts
import { Hono } from "hono";

const app = new Hono();

app.get("/api/users", (c) => {
  return c.json({
    users: [
      { id: 1, name: "Andi", role: "developer" },
      { id: 2, name: "Sari", role: "designer" },
    ],
    meta: { total: 2, runtime: "bun" },
  });
});

app.post("/api/users", async (c) => {
  const body = await c.req.json();
  return c.json({ created: true, ...body }, 201);
});

export default app;

// Jalankan dengan: bun run app-bun.ts

Node.js + Fastify:

// app-node.mjs
import Fastify from "fastify";

const app = Fastify();

app.get("/api/users", async () => {
  return {
    users: [
      { id: 1, name: "Andi", role: "developer" },
      { id: 2, name: "Sari", role: "designer" },
    ],
    meta: { total: 2, runtime: "node" },
  };
});

app.post("/api/users", async (req) => {
  return { created: true, ...req.body };
});

await app.listen({ port: 3000 });

// Jalankan dengan: node --experimental-strip-types app-node.mjs

Dengan framework, gap performanya lebih kecil (sekitar 15-25% in favor of bun), tapi bun tetap unggul berkat overhead yang lebih rendah.


Kapan Harus Pakai Bun, Kapan Tetap Pakai Node.js?

Ini pertanyaan yang lebih penting dari sekadar angka benchmark.

Pakai Bun Kalau:

  • Lo bikin CLI tools atau scripts yang butuh startup cepat
  • Lo mau one-stop solution (runtime + bundler + test runner + package manager)
  • Lo develop microservices baru dari nol
  • Lo pakai TypeScript dan mau zero-config execution
  • Lo butuh fast dependency installation di CI/CD pipeline

Tetap Pakai Node.js Kalau:

  • Lo punya legacy application yang udah jalan di production
  • Lo butuh ekosistem library yang battle-tested dan luas
  • Lo deploy ke environment yang cuma support Node.js (beberapa PaaS)
  • Lo pakai library yang heavily depend on Node.js-specific APIs
  • Tim lo udah familiar dan produktif dengan Node.js tooling

Hybrid Approach

Banyak tim di 2026 yang pakai pendekatan hybrid. Misalnya:

  • Package manager pakai bun install (karena emang jauh lebih cepat)
  • Runtime production tetap pakai Node.js (karena stabilitas dan kompatibilitas)
  • Testing pakai bun test (karena integrated test runner-nya enak)
  • CI/CD pakai bun buat speed, production tetap Node.js

Kalau lo lagi bikin environment containerized, pastikan lo baca juga panduan Docker Compose biar setup development lo lebih rapi.


Ekosistem dan Kompatibilitas di 2026

Satu concern terbesar waktu bun pertama kali rilis adalah kompatibilitas dengan paket npm. Di 2026, situasinya udah jauh lebih baik.

Kompatibilitas bun dengan npm packages:

  • Express, Fastify, Hono: ✅ Fully compatible
  • Prisma, Drizzle ORM: ✅ Compatible
  • Socket.io: ✅ Compatible (sejak v2.0)
  • Mongoose: ⚠️ Mostly works, edge cases tertentu masih bermasalah
  • Native addons (N-API): ⚠️ Improving tapi belum 100%
  • Sharp (image processing): ✅ Compatible
  • Puppeteer: ❌ Masih bermasalah (Chromium dependency)

Node.js tetap jadi raja kompatibilitas. Nggak ada runtime lain yang bisa match ekosistem seluas npm. Tapi bun udah nutup gap-nya dengan cepat.


Bagaimana dengan Tools AI di Sekitar Runtime?

Topik yang lagi hot di 2026 adalah integrasi AI-powered coding tools dengan runtime JavaScript. Gue udah nulis perbandingan mendalam tentang Claude Code vs Codex CLI yang bahas AI coding assistants dari sisi berbeda.

Yang menarik, beberapa AI tools mulai optimize output mereka buat bun. Misalnya, kalau lo pakai Cursor atau Copilot dan nulis prompt yang spesifik ke bun, hasilnya lebih akurat karena model udah dilatih dengan banyak contoh kode bun. Buat detail lebih lanjut soal perbandingan tools ini, cek artikel Cursor vs Copilot vs Codeium 2025.


Bonus: Quick Benchmark Script

Kalau lo mau jalanin benchmark sendiri, ini script sederhana yang bisa lo pakai:

// quick-bench.js — jalanin dengan bun dan node
const iterations = 100_000;

console.time("JSON parse");
for (let i = 0; i < iterations; i++) {
  JSON.parse('{"name":"test","value":42,"nested":{"a":1,"b":2}}');
}
console.timeEnd("JSON parse");

console.time("Array sort");
for (let i = 0; i < 1000; i++) {
  const arr = Array.from({ length: 10000 }, () => Math.random());
  arr.sort((a, b) => a - b);
}
console.timeEnd("Array sort");

console.time("String concat");
let str = "";
for (let i = 0; i < iterations; i++) {
  str += "a";
}
console.timeEnd("String concat");

console.time("Regex");
const regex = /^[\w.-]+@[\w.-]+\.\w+$/;
for (let i = 0; i < iterations; i++) {
  regex.test("[email protected]");
}
console.timeEnd("Regex");
bun run quick-bench.js
node quick-bench.js

Lo bakal notice bahwa untuk pure computation (JSON parse, regex, sorting), gap antara bun dan Node.js udah sangat kecil — kadang bahkan Node.js menang karena V8 punya JIT compiler yang mature banget. Keunggulan bun lebih keliatan di I/O-bound tasks dan startup time.


Kesimpulan: Siapa Pemenangnya?

Jawaban jujur: tergantung use case lo.

Bun di 2026 udah bukan gimmick lagi. Ini runtime yang serius dengan performa legitimate dan fitur-fitur yang bikin developer experience jauh lebih enang. Startup time yang cepat, TypeScript native support, built-in bundler dan test runner — semua ini bikin workflow lo lebih efisien.

Tapi Node.js tetap jadi pilihan yang sangat solid, terutama buat production workloads yang butuh stabilitas dan ekosistem yang luas. Komunitasnya besar, dokumentasinya lengkap, dan hampir semua library udah tested di Node.js.

Saran gue: cobain keduanya. Bikin project kecil pakai bun, rasain DX-nya, dan bandingin. Lo nggak harus pilih satu — banyak developer produktif pakai keduanya di project yang berbeda.

Kalau lo ada pertanyaan atau mau sharing pengalaman pakai bun vs Node.js, feel free kontak gue di [email protected]. Gue selalu seneng diskusi soal runtime JavaScript dan tooling!


FAQ

Apakah bun bisa sepenuhnya menggantikan Node.js di production?

Belum 100%. Bun udah sangat capable di 2026, tapi masih ada edge cases di mana Node.js lebih reliable — terutama kalau lo pakai native addons atau library yang sangat depend on Node.js core APIs. Untuk project baru yang dibangun dari nol, bun udah viable banget buat production.

Mana yang lebih hemat memory, bun atau Node.js?

Untuk aplikasi kecil-menengah, bun cenderung lebih hemat memory (sekitar 15-30% lebih rendah). Tapi untuk aplikasi besar dengan banyak concurrent connections, perbedaannya bisa negligible. V8 punya garbage collector yang sangat mature dan udah dioptimasi bertahun-tahun.

Apakah npm packages bisa langsung dipakai di bun?

Sebagian besar ya. Bun punya kompatibilitas tinggi dengan npm ecosystem — lo bisa bun add express dan langsung pakai. Tapi ada beberapa package yang pakai fitur Node.js spesifik yang belum 100% supported di bun, jadi selalu test dulu sebelum migrate.

Bagaimana performa bun dibanding Deno di 2026?

Bun umumnya lebih cepat dari Deno di HTTP benchmarks dan startup time. Deno unggul di hal keamanan (default deny permissions) dan built-in TypeScript support yang lebih konsisten. Ketiganya (Node.js, bun, Deno) udah sangat capable — pilih berdasarkan kebutuhan project, bukan cuma benchmark.

Apakah worth it migrasi dari Node.js ke bun?

Kalau project lo baru, worth dicoba. Kalau project lo udah jalan di production dengan Node.js, migrasi perlu pertimbangan matang. Cara paling aman: pakai bun buat development tools (install, test, build) tapi tetap deploy pakai Node.js. Ini approach yang banyak dipakai tim engineering di 2026.


Punya pertanyaan lebih lanjut soal runtime JavaScript atau butuh konsultasi teknis? Email gue di [email protected] — gue bantu jawab sebisanya!